Wednesday, February 5, 2014

Faktor Penyebab Secondary Hypertension Atau Hipertensi Sekunder

Pada sekitar 10% kasus, tekanan darah tinggi disebabkan oleh penyakit lainnya, dan disebut dengan Secondary Hypertension atau hipertensi sekunder.


Pada beberapa kasus, ketika penyebab utamanya diobati, tekanan darah biasanya akan kembali normal atau menurun secara signifikan. Penyebab hipertensi sekunder meliputi kondisi-kondisi berikut ini :
   Penyakit ginjal kronis
   Sleep apnea (gangguan pernafasan ketika tidur)
   Tumor atau penyakit lainnya pada kelenjar adrenal (anak ginjal)
   Coarctation of the aorta (penyempitan aorta (pembuluh darah utama yang keluar dari jantung) yang merupakan kelainan bawaan, dan dapat menyebabkan tekanan darah tinggi di tangan)
   Kehamilan
   Penggunaan pil KB
   Kecanduan alkohol
   Disfungsi tiroid (kelenjar gondok)

Pada sekitar 90% kasus lainnya, penyebab tekanan darah tinggi tidak diketahui dan disebut dengan primary hypertension atau hipertensi primer. Walaupun penyebab spesifiknya tidak diketahui, beberapa faktor diakui memberi kontribusi terhadap tekanan darah tinggi.

Faktor-faktor yang tidak dapat diubah

   Usia
Semakin lanjut usia anda, semakin besar kecenderungan anda terhadap tekanan darah tinggi, khususnya pada tekanan sistolik, seiring dengan bertambah kakunya arteri (pembuluh nadi) anda. Hal ini sebagian besar disebabkan oleh arteriosclerosis atau pengerasan arteri.

   Ras
Orang Afro-Amerika memiliki kecenderungan lebih besar terhadap tekanan darah tinggi dibandingkan dengan orang kulit putih. Mereka terserang hipertensi dalam usia yang lebih muda dan lebih cepat mengalami komplikasi yang lebih berat.

   Riwayat keluarga
Kecenderungan untuk menderita tekanan darah tinggi diturunkan dalam keluarga.

   Jenis kelamin
Secara umum, pria memiliki kecenderungan terhadap tekanan darah tinggi yang lebih besar dibandingkan dengan wanita. Kecenderungan ini bervariasi berdasarkan usia dan etnis.

Faktor-faktor yang dapat diubah

   Obesitas
Obesitas didefinisikan sebagai kelebihan berat badan sebesar 30% atau lebih dari berat badan yang ideal. Obesitas sangat berhubungan erat dengan tekanan darah tinggi. Sesungguhnya, mereka yang obesitas memiliki kecenderungan terhadap tekanan darah tinggi 2 – 6 kali lebih besar dibandingkan dengan mereka yang berat badannya berada dalam rentang yang sehat. Para ahli kesehatan sangat merekomendasikan bahwa mereka yang obesitas dan menderita hipertensi menurunkan berat badan sampai mencapai 15% dari berat badan idealnya. Tenaga kesehatan dapat membantu menghitung rentang berat badan yang sehat untuk anda.

   Sensitifitas terhadap sodium (natrium)
Beberapa orang memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap garam, dan tekanan darah mereka akan meningkat jika mereka mengkonsumsi garam. Mengurangi asupan natrium cenderung menurunkan tekanan darah. Fast food dan makanan dalam kemasan mengandung sodium dalam kadar yang sangat tinggi. Beberapa jenis obat-obatan yang dijual bebas, seperti obat-obatan pereda nyeri juga mengandung sodium yang tinggi. Baca label untuk mengetahui kandungan sodium dalam makanan. Hindari makanan yang mengandung sodium tinggi. Tujuan anda adalah mengkonsumsi tidak lebih dari 1.500 mg natrium per hari.
   Konsumsi alkohol
   Penggunaan pil KB
   Kurangnya aktifitas fisik
   Konsumsi obat-obatan

Beberapa jenis obat-obatan seperti amfetamin (stimulan), obat pelangsing, serta obat flu dan batuk cenderung meningkatkan tekanan darah.


Wednesday, September 4, 2013

Obat-obatan Yang Dapat Meningkatkan Tekanan Darah

Salah satu tujuan mengkonsumsi obat anti hipertensi adalah untuk memastikan bahwa obat tersebut dapat bekerja secara efektif dalam menurunkan tekanan darah. Salah satu cara agar obat anti hipertensi dapat bekerja secara efektif adalah dengan menghindari konsumsi obat-obatan lainnya karena :

  • Beberapa obat-obatan dapat meningkatkan tekanan darah. Jika anda telah memiliki hipertensi, penggunaan obat-obatan tersebut dapat menaikkan tekanan darah anda ke tingkat yang berbahaya.
  • Beberapa obat-obatan mungkin berinteraksi dengan obat anti hipertensi anda yang anda konsumsi, sehingga masing-masing obat ini tidak dapat bekerja sebagaimana mestinya.

Berikut ini adalah beberapa tipe obat-obatan yang dapat meningkatkan tekanan darah atau memperburuk hipertensi anda :

Non-steroidal Anti-inflammatory Drugs (NSAID)

NSAID seringkali digunakan untuk meredakan nyeri atau mengurangi peradangan, misalnya arthritis (radang sendi). Namun, NSAID dapat menyebabkan tubuh anda menyimpan cairan dan menurunkan fungsi ginjal. Hal ini dapat menyebabkan tekanan darah anda meningkat lebih tinggi lagi, sehingga menempatkan stres yang lebih besar pada jantung dan ginjal.

NSAID yang umumnya meningkatkan tekanan darah meliputi :

  • Ibuprofen
  • Naproxen
Anda juga mungkin menemukan NSAID dalam obat-obatan untuk masalah kesehatan lainnya, misalnya obat flu dan batuk. Tanyakan pada dokter apakah obat NSAID aman untuk anda konsumsi. Dokter mungkin akan merekomendasikan alternatif lainnya, seperti asetaminofen/parasetamol sebagai pengganti ibuprofen.

Obat batuk dan flu

Beberapa obat batuk dan flu mengandung NSAID. Seperti yang telah disebutkan di atas, NSAID mungkin meningkatkan tekanan darah. Obat batuk dan flu seringkali mengandung dekongestan. Dekongestan dapat memperburuk hipertensi anda dalam 2 cara, yaitu :

  • Meningkatkan tekanan darah dan denyut jantung
  • Mencegah obat anti hipertensi anda bekerja sebagaimana mestinya
Pseudoephedrine merupakan dekongestan spesifik yang dapat meningkatkan tekanan darah. Hindari penggunaan obat batuk dan flu yang mengandung NSAID atau dekongestan, khususnya pseudoephedrine. Tanyakan pada dokter mengenai cara lain untuk meredakan gejala hidung tersumbat, misalnya penggunaan obat anti histamin (anti alergi) atau nasal spray yang dapat meminimalisir efek pada jantung dan pembuluh darah.

Obat migrain

Beberapa obat migrain bekerja dengan cara menyempitkan pembuluh darah di kepala. Hal ini tidak hanya dapat meredakan sakit di kepala, namun juga dapat menyempitkan pembuluh darah di seluruh tubuh sehingga dapat menaikkan tekanan darah, bahkan mungkin sampai ke tingkat yang berbahaya.

Jika anda memiliki hipertensi atau tipe penyakit jantung apapun, bicarakan dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat migrain ataupun obat sakit kepala lainnya.

Obat pelangsing

Beberapa jenis obat penurun berat badan dapat memperburuk penyakit jantung.

Penekan nafsu makan memiliki kecenderungan memutarbalikkan fungsi tubuh anda. Hal ini dapat meningkatkan tekanan darah dan menempatkan stres yang lebih besar pada jantung.

Beberapa tips untuk menghindari bahaya dari obat-obatan

Pastikan obat-obatan yang anda konsumsi aman bagi penderita hipertensi. Saran-saran berikut ini mungkin dapat membantu :

  • Beritahukan semua obat-obatan yang anda konsumsi (baik yang dijual bebas maupun yang diresepkan dokter) pada setiap dokter yang anda kunjungi.
  • Baca label sebelum membeli obat yang dijual bebas. Pastikan obat tersebut tidak mengandung obat-obatan yang dapat memperburuk hipertensi anda.
  • Bicarakan dengan dokter sebelum mengkonsumsi obat-obatan yang dijual bebas, obat-obatan herbal, maupun suplemen nutrisi. Tanyakan mengenai alternatif bagi obat-obatan yang berpotensi bahaya. 

Apa itu Krisis Hipertensi (Hypertensive Crisis)

Apa itu krisis hipertensi atau hypertensive crisisKrisis hipertensi atau Hypertensive crisis merupakan istilah umum bagi hypertensive urgency dan hypertensive emergency. Kedua kondisi ini terjadi ketika tekanan darah sangat tinggi dan mungkin menyebabkan kerusakan organ.

Hypertensive Urgency (Hipertensi Mendesak)

Hypertensive urgency terjadi ketika tekanan darah meningkat tajam namun tidak terjadi kerusakan organ tubuh. Tekanan darah dapat diturunkan secara aman dalam beberapa jam dengan obat-obatan anti hipertensi.

Hypertensive Emergency (Kegawatdaruratan Hipertensi)

Hypertensive emergency menandakan tekanan darah yang sangat tinggi dan kerusakan organ dapat terjadi. Tekanan darah harus diturunkan sesegera mungkin untuk mencegah kerusakan organ yang akan segera terjadi. Usaha ini dilakukan di Intensive Care Unit (ICU) Rumah Sakit.

Kerusakan organ yang dikaitkan dengan hypertensive emergency mungkin meliputi :

  • Perubahan status mental, seperti kehilangan kemampuan untuk berkonsentrasi, kehilangan memori jangka pendek, mudah tersinggung, dan rasa kantuk.
  • Pendarahan otak (stroke)
  • Gagal jantung
  • Nyeri dada (unstable angina)
  • Penumpukan cairan di paru-paru (pulmonary edema)
  • Serangan jantung
  • Aneurysm (pelebaran pembuluh darah abnormal yang disebabkan oleh melemahnya dinding pembuluh darah) atau aortic dissection (pecahnya dinding aorta (arteri utama yang keluar dari jantung))
  • Eclampsia (terjadi pada masa kehamilan)
Kasus hypertensive emergency jarang terjadi. Hypertensive emergency seringkali terjadi jika hipertensi dibiarkan tanpa pengobatan, pasien tidak meminum obat anti hipertensi yang diresepkan dokter, atau pasien mengkonsumsi obat-obatan yang dijual bebas tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu sehingga memperburuk keadaan hipertensinya.

Gejala Hypertensive Emergency

  • Sakit kepala atau penglihatan kabur
  • Meningkatnya gangguan kesadaran
  • Kejang
  • Meningkatnya nyeri dada
  • Meningkatnya sesak nafas
  • Pembengkakan (penumpukan cairan dalam jaringan tubuh)

Mendiagnosis Hypertensive Emergency

Untuk mendiagnosis hypertensive emergency, dokter akan mengajukan beberapa pertanyaan untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai riwayat kesehatan anda. Dokter juga perlu mengetahui obat-obatan yang anda konsumsi (termasuk obat-obatan terlarang). Selain itu, jangan lupa untuk memberitahu dokter mengenai obat-obatan herbal atau suplemen yang anda konsumsi.

Beberapa pemeriksaan yang akan dilakukan untuk memonitor tekanan darah dan memperkirakan kerusakan organ, meliputi :

  • Pengukuran tekanan darah secara teratur
  • Pemeriksaan mata untuk melihat pembengkakan dan pendarahan
  • Tes darah dan urin

Perawatan Hypertensive Emergency

Pada kasus hypertensive emergency, tujuan utamanya adalah menurunkan tekanan darah secepat mungkin dengan pemberian obat anti hipertensi intravena (IV) yang disuntikkan pada pembuluh darah untuk mencegah kerusakan organ lebih lanjut. Kerusakan organ yang telah terjadi ditangani dengan terapi spesifik pada organ yang mengalami kerusakan tersebut.

Tuesday, August 27, 2013

Apa itu Prehipertensi?

Apa itu prehipertensi? Pada prehipertensi, hasil pengukuran tekanan sistolik 120 – 139 mmHg, atau tekanan diastolik 80 – 89 mmHg.


Prehipertensi merupakan suatu tanda peringatan bahwa anda mungkin memiliki tekanan darah tinggi di masa yang akan datang. Tekanan darah tinggi meningkatkan resiko anda terhadap serangan jantung, stroke, coronary heart disease (penyakit jantung koroner = penyakit yang terjadi apabila arteri koroner yang memberi suplai darah dan oksigen kepada otot jantung mengalami pengerasan dan penyempitan akibat endapan lemak yang menumpuk di dinding dalamnya), gagal jantung, dan gagal ginjal. Tidak ada yang dapat menyembuhkan tekanan darah tinggi, namun terdapat perawatan untuk mengendalikan tekanan darah, yaitu dengan pola hidup sehat dan obat-obatan.

Dulu, tekanan darah 120/80 mmHg dianggap normal. Sekarang, tekanan darah yang dikatakan normal adalah yang lebih rendah dari 120/80 mmHg.

Dengan titik acuan 115/75 mmHg, resiko terhadap serangan jantung dan stroke meningkat 2 kali lipat untuk setiap peningkatan sistolik 20 mmHg atau diastolik 10 mmHg pada orang dewasa berusia 40 – 70 tahun.

Siapa saja yang memiliki resiko prehipertensi?

Di Amerika Serikat, hampir setengah dari seluruh orang dewasa (usia lebih dari 18 tahun) mengalami prehipertensi dan hipertensi, yang didasarkan pada rata-rata dari 2 atau lebih pengukuran tekanan darah pada 2 atau lebih kunjungan dokter. Sekitar 59 juta orang di Amerika Serikat mengalami prehipertensi.

Orang yang mengalami prehipertensi mungkin memiliki resiko yang lebih besar terhadap penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) lainnya. Faktor resiko seperti tingginya kadar kolesterol dalam darah, obesitas, dan diabetes, lebih banyak ditemui pada mereka yang mengalami prehipertensi dibandingkan dengan orang yang memiliki tekanan darah yang normal.

Apa prehipertensi merupakan suatu akibat dari proses penuaan?

Anda mungkin membayangkan bahwa tekanan darah tinggi terjadi seiring dengan proses penuaan, namun para ahli mengatakan tidak demikian.

Beberapa populasi masyarakat di seluruh dunia mengalami peningkatan tekanan darah yang minimal seiring dengan proses penuaan. Pada beberapa belahan meksiko, pasifik selatan, dan belahan dunia lainnya dimana masyarakat mengkonsumsi garam dengan kadar yang sangat rendah, peningkatan tekanan darah yang dikaitkan dengan usia sangat kecil jika dibandingkan dengan di Amerika Serikat.

Apakah ada perawatan untuk prehipertensi?

Prehipertensi adalah tanda peringatan bahwa anda berada dalam resiko yang lebih besar untuk mengalami hipertensi. Berdasarkan pada tekanan darah dan faktor resiko penyakit jantung, anda mungkin hanya membutuhkan beberapa penyesuaian pola hidup. Berikut ini adalah beberapa strategi untuk membantu anda mengendalikan prehipertensi :

  • Menurunkan berat badan jika anda memiliki kelebihan berat badan atau obesitas
    Memiliki berat badan berlebih meningkatkan resiko anda terhadap tekanan darah tinggi. Demikian pula sebaliknya, mengurangi berat badan dapat menurunkan tekanan darah. Penelitian menunjukkan bahwa penurunan berat badan yang sedikit saja dapat mencegah terjadinya hipertensi sebesar 20% pada mereka yang memiliki kelebihan berat badan dan mengalami prehipertensi.
  • Melakukan latihan fisik secara teratur
    Latihan fisik membantu anda menurunkan berat badan. Latihan fisik juga membantu menurunkan tekanan darah.
  • Konsumsi lebih banyak buah, sayur, biji-bijian, ikan, dan low-fat dairy
    Penelitian menunjukkan tekanan darah dapat diturunkan dan hipertensi dapat dicegah dengan DASH diet (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang meliputi diet rendah sodium (natrium), serta tinggi potasium (kalium), magnesium, kalsium, protein, dan serat.
  • Mengurangi asupan garam
    Diet tinggi sodium (natrium) dapat meningkatkan tekanan darah. Demikian pula sebaliknya, diet rendah natrium dapat menurunkan tekanan darah atau mencegah hipertensi. Batasi asupan natrium sampai tidak lebih dari 2.300 mg (sekitar 1 sendok teh garam) per hari.
  • Diet rendah lemak jenuh, lemak trans, dan kolesterol
    Diet yang tinggi lemak jenuh (daging dan high-fat dairy), lemak trans (margarin, snack, dan kue) dan kolesterol (jeroan, high-fat dairy, dan kuning telur) dapat menyebabkan obesitas, penyakit jantung, dan kanker.
  • Diet vegetarian (makanan nabati)
    Tambahan makanan berprotein tinggi yang berasal dari kedelai dalam diet sehari-hari, serta perbanyak konsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran.
  • Membatasi konsumsi alkoholMengkonsumsi terlalu banyak alkohol dapat meningkatkan tekanan darah. Untuk membantu mencegah hipertensi, batasi konsumsi alkohol.

Efek Samping Obat Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Obat-obatan dapat menimbulkan efek samping, tak terkecuali obat-obatan anti hipertensi. Namun, beberapa pasien tidak mengalaminya, atau seringkali efek samping obat hipertensi (tekanan darah tinggi) yang dirasakan sangatlah ringan. Tetap saja sangat penting untuk selalu menginformasikan dan bekerjasama dengan dokter untuk mengendalikan efek samping yang mungkin anda alami. Tidak ada gunanya untuk berdiam diri dan merasakan penderitaan akibat efek samping yang ditimbulkan, sebab saat ini terdapat banyak pilihan obat-obatan untuk mengendalikan tekanan darah.


Artikel ini mencatat efek samping yang mungkin ditimbulkan oleh masing-masing tipe obat anti hipertensi. Berikut ini merupakan 4 peringatan umum :

  1. Jangan pernah menghentikan konsumsi obat antihipertensi tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Pada beberapa kasus, hal ini dapat sangat berbahaya, karena menyebabkan lonjakan besar dalam tekanan darah.
  2. Jika anda sedang hamil atau berencana untuk hamil, konsultasikan dengan dokter mengenai obat anti hipertensi yang aman untuk dikonsumsi. ACE inhibitors atau ARB dapat menyebabkan efek samping yang berbahaya bagi wanita hamil dan bayi yang sedang dikandungnya.
  3. Jika anda menggunakan insulin untuk pengobatan diabetes, konsultasikan dengan dokter. Perubahan kadar gula darah dapat terjadi pada pasien diabetes yang mengkonsumsi diuretik atau beta blockers untuk pengobatan hipertensinya.
  4. Jika anda mengalami disfungsi ereksi ketika melalukan hubungan seksual, konsultasikan dengan dokter. Beberapa obat anti hipertensi dapat menyebabkan masalah ini. Mengurangi dosisnya atau menggantinya dengan obat anti hipertensi tipe lainnya mungkin membantu. Namun, hipertensi itu sendiri juga dapat menyebabkan disfungsi ereksi.
Berikut ini adalah efek samping obat anti hipertensi yang paling sering muncul :

Diuretics

Obat anti hipertensi tipe ini membuang kelebihan air dan garam dari dalam tubuh. Obat anti hipertensi diuretik mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Banyak buang air besar, yang artinya membuat anda sering ke kamar kecil. Minum obat ini di pagi hari dan ketika anda tidak terdampar jauh dari kamar kecil.
  • Disfungsi ereksi bagi beberapa pria
  • Obat anti hipertensi diuretik mungkin menurunkan kadar potasium (kalium) dalam tubuh yang dapat menyebabkan efek samping rasa lelah, lemah, atau kram pada kaki. Namun, beberapa tipe potassium-sparing diuretics tidak memiliki efek samping tersebut.
  • Nyeri yang intens dan tiba-tiba yang merupakan gejala rematik (jarang)
Beta-Blockers

Obat anti hipertensi tipe ini membuat detak jantung anda lebih lambat dan berkurang kekuatannya. Obat anti hipertensi beta blockers mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Gejala asma
  • Rasa dingin pada tangan dan kaki
  • Depresi
  • Disfungsi ereksi
  • Insomnia dan gangguan tidur
Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitors

Obat anti hipertensi tipe ini menghambat pembentukan hormon yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Obat anti hipertensi ACE inhibitors mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Batuk kering yang tidak sembuh-sembuh. Jika anda mengalami efek samping ini, dokter mungkin akan meresepkan obat anti hipertensi tipe lainnya.
  • Ruam kulit dan hilangnya rasa pengecapan
Angiotensin II Receptor Blockers (ARB)

Obat anti hipertensi ini membentengi pembuluh darah dari hormon yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Salah satu efek samping obat anti hipertensi ARB yang paling umum terjadi adalah rasa pusing.

Calcium Channel Blockers (CCB)

Obat anti hipertensi tipe ini menjaga kalsium agar tidak memasuki otot jantung dan sel-sel pembuluh darah. Obat anti hipertensi calcium channel blockers mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Konstipasi/sembelit
  • Pusing
  • Sakit kepala
  • Detak jantung yang sangat cepat atau berdebar-debar (palpitasi)
  • Pembengkakan pada pergelangan kaki
Alpha-Blockers

Obat anti hipertensi tipe ini mengurangi impuls saraf ke pembuluh darah dan memungkinkan darah untuk mengalir dengan lebih mudah. Obat anti hipertensi alpha-blockers mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Pusing, kepala melayang (seperti mau pingsan) atau rasa lemah ketika bangkit dari tempat tidur secara tiba-tiba di pagi hari (sebagai akibat dari penurunan tekanan darah)
  • Denyut jantung yang cepat
Alpha-2 Receptor Agonist

Obat anti hipertensi tipe ini menurunkan aktifitas sistem saraf dalam memproduksi adrenalin, yang mungkin menyebabkan rasa kantuk atau pusing.

Alpha-Beta-Blockers

Obat anti hipertensi tipe ini mengurangi impuls saraf dan juga memperlambat detak jantung. Pasien dengan hipertensi berat (tekanan darah yang sangat tinggi) seringkali mendapatkan obat ini melalui suntikan intravena (IV). Namun dokter juga mungkin meresepkan obat ini bagi pasien yang menderita congestive heart failure (ketidakmampuan jantung untuk memompa darah yang memadai untuk memenuhi kebutuhan jaringan akan oksigen dan nutrisi). Obat anti hipertensi alpha-beta blockers mungkin menyebabkan penurunan darah ketika anda pertama bangkit dari tempat tidur di pagi hari yang dapat menyebabkan pusing, kepala melayang (seperti mau pingsan) atau rasa lemah.

Central Agonists

Obat anti hipertensi tipe ini bekerja dengan cara mengendalikan impuls saraf. Obat anti hipertensi central agonists mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Anemia
  • Konstipasi/sembelit
  • Pusing, kepala melayang (seperti mau pingsan) atau rasa lemah ketika bangkit dari tempat tidur secara tiba-tiba di pagi hari (sebagai akibat dari penurunan tekanan darah)
  • Rasa kantuk
  • Mulut kering
  • Disfungsi ereksi
  • Demam
Peripheral Adrenergic Inhibitors

Obat anti hipertensi tipe ini menghambat neurotransmitters di otak, sehingga sinyal untuk penyempitan pembuluh darah tidak sampai ke otot polos. Dibandingkan dengan obat anti hipertensi tipe lainnya, peripheral adrenergic inhibitors relatif jarang digunakan. Obat ini mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Diare
  • Pusing, kepala melayang (seperti mau pingsan) atau rasa lemah ketika bangkit dari tempat tidur secara tiba-tiba di pagi hari (sebagai akibat dari penurunan tekanan darah)
  • Disfungsi ereksi
  • Rasa panas atau nyeri ulu hati
  • Hidung tersumbat
Jika terjadi insomnia atau gangguan tidur, bicarakan dengan dokter mengenai pilihan obat anti hipertensi tipe lainnya.

Vasodilators

Obat anti hipertensi tipe ini mengendurkan otot-otot pada dinding pembuluh darah, melebarkan pembuluh darah dan memungkinkan aliran darah yang lebih baik. Obat anti hipertensi vasodilators mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Pertumbuhan rambut yang berlebihan
  • Retensi cairan
  • Sakit kepala
  • Detak jantung yang sangat cepat atau berdebar-debar (palpitasi)
  • Nyeri sendi
  • Pembengkakan di sekitar mata
Renin Inhibitor

Obat anti hipertensi tipe terbaru ini bekerja dengan cara menurunkan zat-zat kima yang menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Obat ini dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan obat hipertensi tipe lainnya. Obat anti hipertensi renin inhibitors mungkin menyebabkan efek samping seperti :

  • Batuk
  • Diare atau sakit perut
  • Rasa panas atau nyeri ulu hati
  • Ruam kulit

Konsultasikan Efek Samping Obat Hipertensi

Tanyakan pada dokter apakah ada langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi efek samping dari obat anti hipertensi. Misalnya, untuk mengurangi efek samping akibat penurunan tekanan darah, hindari berdiri terlalu lama di bawah panas matahari. Pada beberapa kasus, efek samping seperti rasa lelah dan diare akan berangsur-angsur menghilang seiring dengan berjalannya waktu.

Pada kasus lainnya, dokter mungkin mengurangi dosis atau mengganti dengan obat anti hipertensi tipe lainnya. Kombinasi tipe obat anti hipertensi terkadang bekerja lebih baik dibandingkan dengan penggunaan obat anti hipertensi tunggal. Tidak hanya meningkatkan efek mengendalikan tekanan darah, namun juga mengurangi efek sampingnya.

Selain itu, jika anda baru pertama kali mengkonsumsi obat anti hipertensi, waspadalah terhadap reaksi alergi, walaupun jarang terjadi. Segera kunjungi dokter jika terjadi gejala gatal-gatal, mengi (bengek), muntah, kepala melayang (seperti mau pingsan), atau pembengkakan pada tenggorokan atau wajah.

Monday, August 26, 2013

Obat-obatan Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi)

Pada sebagian besar penderita hipertensi, obat-obatan merupakan bagian utama dari rencana perawatan hipertensi. Dokter memiliki ratusan obat hipertensi yang berbeda untuk dijadikan pilihan. Obat-obatan ini bekerja dalam beberapa cara yang berbeda untuk menurunkan tekanan darah. Yang perlu diingat adalah bahwa obat-obatan ini tidak menyembuhkan hipertensi. Adapun tujuan dari pengobatan hipertensi adalah untuk mengendalikan tekanan darah dan membawanya kembali ke angka normal.


Apa perbedaan masing-masing tipe obat hipertensi? Bagaimana cara kerja obat-obatan tersebut dalam mengendalikan tekanan darah?

Diuretics

Obat hipertensi tipe ini membantu ginjal membuang garam dan air dari dalam tubuh. Salah satu akibatnya adalah anda memiliki sedikit volume darah yang mengalir dalam pembuluh darah. Sedikitnya volume darah yang mengalir dalam pembuluh darah menyebabkan penurunan tekanan darah.

Obat-obatan diuretik yang seringkali disebut juga dengan "water pills", biasanya merupakan tipe obat hipertensi yang pertama kali akan dicoba oleh dokter. Berikut ini merupakan beberapa contohnya :

  • Spironolactone
  • Triamterene
  • Hydrochlorothiazide (HCT)
  • Chlorthalidone
  • Furosemide
  • Indapamide
  • Amiloride hydrochloride
  • Metolazone
Dokter bahkan mungkin akan meminta anda mengkonsumsi 2 jenis obat diuretik sekaligus. Berikut ini merupakan beberapa contoh kombinasi obat diuretik :

  • Aldactazide = spironolactone + hydrochlorothiazide
  • Dyazide atau Maxzide = hydrochlorothiazide + triamterene
  • Moduretic = amiloride hydrochloride + hydrochlorothiazide

Beta-Blockers

Obat hipertensi tipe ini memperlambat detak jantung. Obat ini juga menjaga jantung agar tidak memompa darah terlalu keras. Hal ini membuat darah melewati pembuluh darah dengan kekuatan rendah sehingga tekanan di dalam pembuluh darah pun menurun.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi beta-blockers :

  • Timolol
  • Carteolol hydrochloride
  • Carvedilol
  • Nadolol
  • Propranolol
  • Betaxolol
  • Penbutolol sulfate
  • Metoprolol
  • Acebutolol
  • Atenolol
  • Pindolol
  • Bisoprolol fumarate
  • Labetolol

Alpha-Blockers

Obat hipertensi tipe ini mengurangi impuls saraf yang memberi sinyal kepada pembuluh darah untuk menyempit. Pembuluh darah akan tetap melebar dan menurunkan tekanan darah secara keseluruhan.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi alpha-blockers :

  • Doxazosin
  • Terazosin
  • Prazosin

ACE (Angiotensin-Converting Enzyme) Inhibitors

Obat hipertensi tipe ini mencegah tubuh memproduksi angiotensin II (hormon yang membuat pembuluh darah menyempit) sehingga pembuluh darah akan tetap melebar. Darah akan lebih mudah mengalir dalam pembuluh darah dan menurunkan tekanan darah secara keseluruhan.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi ACE inhibitors :

  • Quinapril
  • Ramipril
  • Captopril
  • Trandolapril
  • Benazepril
  • Fosinopril
  • Lisinopril
  • Moexipril
  • Enalapril

ARB (Angiotensin II Receptor Blockers)

Obat hipertensi tipe ini mencegah penyempitan pembuluh darah. ARB menghambat aksi angiotensin II (hormon yang membuat pembuluh darah menyempit). Akibatnya, darah akan lebih mudah mengalir dalam pembuluh darah dan tekanan darah akan menurun.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi ARB :

  • Candesartan
  • Irbesartan
  • Olmesartan
  • Losartan
  • Valsartan
  • Telmisartan
  • Eprosartan

Calcium Channel Blockers (CCB)

Obat hipertensi tipe ini disebut juga dengan "calcium antagonist". Beberapa tipe CCB menjaga agar pembuluh darah tidak terlalu menyempit dengan cara mencegah kalsium memasuki sel-sel otot di jantung dan pembuluh darah. Sementara yang lainnya memperlambat denyut jantung. Akibatnya, darah akan lebih mudah mengalir dalam pembuluh darah dan tekanan darah akan menurun.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi Calcium Channel Blockers :

  • Nifedipine
  • Verapamil
  • Nicardipine
  • Diltiazem
  • Isradipine
  • Amlodipine
  • Felodipine
  • Nisoldipine

Central Agonists

Sasaran obat hipertensi tipe ini adalah reseptor di otak untuk membantu menurunkan tekanan darah.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi central agonists :

  • Methyldopa
  • Clonidine
  • Guanfacine
  • Guanabenz

Peripheral-Acting Adrenergic Blockers

Sasaran obat hipertensi tipe ini adalah impuls saraf yang memberi sinyal kepada pembuluh darah untuk menyempit, sehingga membantu menurunkan tekanan darah.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi peripheral-acting adrenergic blockers :

  • Guanadrel
  • Guanethidine
  • Reserpine

Direct Vasodilators

Obat hipertensi tipe ini mengendurkan otot-otot di dinding pembuluh darah. Pembuluh darah melebar dan darah akan lebih mudah mengalir dalam pembuluh darah sehingan tekanan darah pun akan menurun.

Berikut ini merupakan beberapa contoh obat hipertensi direct vasodilators :

  • Hydralazine
  • Minoxidil

Direct Renin Inhibitors

Direct renin inhibitors, ACE inhibitors, dan ARB memiliki target yang sama yaitu proses penyempitan pembuluh darah. Namun, masing-masing menghambat bagian yang berbeda dari proses tersebut.

Direct renin inhibitors menghambat enzim renin memicu proses yang membantu mengendalikan tekanan darah. Akibatnya, pembuluh darah mengendur dan melebar, membuat darah menjadi lebih mudah untuk mengalir dalam pembuluh darah, sehingga menurunkan tekanan darah.

Aliskiren merupakan contoh obat direct renin inhibitor, dapat digunakan sebagai obat tunggal maupun dikombinasikan dengan diuretik maupun obat hipertensi tipe lainnya.

Terapi kombinasi

Obat hipertensi mana yang terbaik untuk anda? Pemilihannya tergantung pada faktor-faktor berikut ini :

  • Penyebab hipertensi yang anda alami
  • Seberapa tinggi tekanan darah anda
  • Bagaimana respon tubuh anda terhadap obat hipertensi tipe lainnya
  • Masalah kesehatan lain yang mungkin anda miliki
Beberapa penderita hipertensi membutuhkan lebih dari 1 tipe obat hipertensi yang dikombinasikan dalam 1 tablet, dengan tujuan untuk mendapatkan hasil terbaik. Mungkin membutuhkan beberapa trial-and-error testing untuk mendapatkan kombinasi obat hipertensi yang paling cocok untuk anda.

Perawatan Hipertensi

Hipertensi atau tekanan darah tinggi merupakan suatu keadaan yang berbahaya karena dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal jantung, atau penyakit ginjal. Tujuan dari perawatan hipertensi adalah untuk menurunkan tekanan darah dan melindungi organ-organ penting seperti otak, jantung, dan ginjal dari kerusakan. Berdasarkan penelitian, perawatan hipertensi telah dikaitkan dengan penurunan resiko stroke (35 – 40 %), serangan jantung (20 – 25 %), dan gagal jantung (lebih dari 50%).


Klasifikasi tekanan darah :

  • Normal : < 120/80
  • Prehipertensi : sistolik 120 – 139 ; diastolik 80 – 89
  • Hipertensi stadium 1 : sistolik 140 – 159 ; diastolik 90 – 99
  • Hipertensi stadium 2 : 160/100 atau lebih
Perawatan hipertensi atau tekanan darah tinggi melibatkan perubahan pola hidup dan mungkin juga obat-obatan.

Semua pasien dengan tekanan darah lebih dari 120/80 harus dimotivasi untuk memodifikasi pola hidup, seperti diet sehat, berhenti merokok, dan lebih banyak berolahraga. Pemberian obat-obatan direkomendasikan untuk menurunkan tekanan darah menjadi kurang dari 140/90. Bagi penderita diabetes atau penyakit ginjal kronis tekanan darah yang direkomendasikan adalah kurang dari 130/80.

Menurunkan tekanan darah dengan perubahan pola hidup

Sebuah langkah penting dalam pencegahan dan pengobatan tekanan darah tinggi adalah pola hidup sehat. Anda dapat menurunkan tekanan darah dengan perubahan pola hidup seperti berikut ini :

  • Menurunkan berat badan jika anda memiliki kelebihan berat badan atau obesitas
  • Berhenti merokok
  • DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang meliputi makan lebih banyak buah-buahan, sayur-sayuran dan produk olahan susu yang low-fat, serta mengurangi asupan lemak.
  • Mengurangi kandungan sodium (natrium) dalam makanan sampai kurang dari 1.500 mg per hari jika anda mengidap hipertensi. Orang dewasa yang sehat perlu membatasi asupan natrium sampai tidak lebih dari 2.300 mg (sekitar 1 sendok teh garam) per hari.
  • Melakukan latihan aerobik secara teratur, seperti jalan cepat sedikitnya 30 menit dalam sehari, beberapa hari dalam seminggu
  • Membatasi konsumsi alkohol
Selain menurunkan tekanan darah, langkah-langkah ini juga dapat meningkatkan efektifitas obat-obatan hipertensi.

Obat-obatan untuk menurunkan tekanan darah

Tipe obat-obatan yang digunakan untuk mengobati hipertensi, meliputi :

  • Angiotensin-Converting Enzyme (ACE) inhibitors
  • Angiotensin II Receptor Blockers (ARB)
  • Diuretics
  • Beta-blockers
  • Calcium Channel Blockers (CCB)
  • Alpha-blockers
  • Alpha-agonists
  • Renin inhibitors
Obat-obatan diuretik seringkali direkomendasikan sebagai terapi baris pertama pada sebagian besar penderita hipertensi.

Namun, dokter mungkin akan memulai dengan obat selain diuretik sebagai terapi baris pertama jika anda memiliki masalah kesehatan tertentu. Misalnya, ACE inhibitors seringkali merupakan pilihan bagi penderita diabetes.

Jika tekanan sistol/diastol anda lebih tinggi 20/10 angka dari yang seharusnya, dokter mungkin akan mempertimbangkan untuk memulai perawatan dengan memberikan 2 obat (kombinasi).

Follow-Up Treatment

Setelah memulai perawatan hipertensi, anda harus mengunjungi dokter sedikitnya 1 kali dalam sebulan sampai tercapai tekanan darah yang ditargetkan. 1 atau 2 kali setahun, dokter akan memeriksa kadar potasium (kalium) dalam darah (obat-obatan diuretik dapat menurunkannya, sedangkan ACE inhibitors dan ARB mungkin meningkatkannya) dan elektrolit lainnya serta kadar BUN (Blood Urea Nitrogen)/kreatinin (untuk memeriksa kesehatan ginjal).

Setelah tekanan darah yang ditargetkan tercapai, anda sebaiknya mengunjungi dokter setiap 3 – 6 bulan, tergantung pada apakah anda mengidap penyakit lainnya, seperti gagal jantung.